Jumat, 27 April 2018


PEMUSNAHAN REAGEN YANG TIDAK TERPAKAI

Laboratorium yang baik adalah laboratorium yang tidak hanya memperhatikan masalah ketelitian analisa saja. Akan tetapi laboratorium yang baik juga harus memperhatikan masalah pembuangan limbah. Limbah yang dibuang sembarangan, jika masuk ke badan air tanah dan mengalir ke pemukiman penduduk akan menimbulkan bahaya. Terutama logam-logam berat. Jika tidak ditangani dengan baik dapat membahayakan makhluk hidup dan merusak lingkungan.
Secara umum dalam pembuangan limbah terdapat beberapa metoda, metoda? pembuangan limbah laboratorium tersebut terbagi atas empat metoda.

 Metoda-metoda tersebut adalah sebagai berikut :
  1.  Pembuangan langsung dari laboratorium. 
      Metoda pembuangan langsung ini dapat diterapkan untuk bahan-bahan kimia yang dapat larut dalam air. Bahan-bahan kimia yang dapat larut dalam air dibuang langsung melalui bak pembuangan limbah laboratorium. Untuk bahan kimia sisa yang mengandung asam atau basa harus dilakukan penetralan, selanjutnya baru bisa dibuang. Untuk bahan kimia sisa yang mengandung logam-logam berat dan beracun seperti Pb, Hg, Cd, dan sebagainya, endapannya harus dipisahkan terlebih dahulu. Kemudian cairannya dinetralkan dan dibuang.

22. Dengan pembakaran terbuka. 
      Metoda pembakaran terbuka dapat dterapkan untuk bahan-bahan organik yang kadar racunnya rendah dan tidak terlalu berbahaya. Bahan-bahan organik tersebut dibakar ditempat yang aman dan jauh dari pemukiman penduduk.

33. Pembakaran dalam insenerator. 
    Metoda pembakaran dalam insenerator dapat diterapkan untuk bahan-bahan toksik yang jika dibakar ditempat terbuka akan menghasilkan senyawa-senyawa yang bersifat toksik.

44. Dikubur didalam tanah dengan perlindungan tertentu agar tidak merembes ke badan air.
       Metoda ini dapat diterapkan untuk zat-zat padat yang reaktif dan beracun

Untuk penanganan dan pemusnahan bahan kimia yang dijelasakan di atas dari metoda-metoda yang telah disebutkan diatas, terdapat beberapa jenis tumpahan bahan kimia sisa yang perlu mendapatkan perlakuan khusus sebelum dibuang keperairan. Bahkan diantaranya perlu dimusnahkan sebelum dibuang. Diantara bahan-bahan kimia tersebut antara lain adalah Tumpahan Asam-asam organik, Basa Akali dan Amonia, Bahan-bahan Kimia Oksidator, Bahan-bahan kimia reduktor, Sianida dan Nitril.

Contoh pemusnahan bahan
a.     Halida Asam Organik
Contoh bahan :
Asetil bromida, Asetil klorida, Benzoil klorida

Pembuangan/pemusnahan bahan dengan cara :
Campurkan dengan NaHCO3, dalam wadah gelas atau plastik dan tambahkan air dalam jumlah banyak sambil diaduk. Buang ke dalam bak air diikuti dengan banyak air.
  
b.    Senyawa Halida Organik
Contoh bahan :
Alumunium klorida, Asam klorosulfonik, Stanilklorida

Pembuangan/pemusnahan bahan dengan cara :
Campur dengan NaHCO3 dalam sebuah wadah penguap. Semprot dengan NH4OH 6 M dan aduk serta tambah es untuk mendinginkan hasil reaksi. Setelah tidak terbentuk uap NH4Cl, tambah air dan aduk. Netralkan dengan HCl sebelum dibuang bersama-sama air.

c.     Aldehida
     Contoh bahan :
     Asetaldehida, Akrolein, Benzaldehida, Kloral, Formaldehida, Furfural, Paraldehida
  
     Pembuangan/pemusnahan bahan dngan cara :
     Serap dalam adsorbent, bakar secara terbuka atau dalam insenerator.
     Larutkan dalam aseton atau benzena, bakar dalam insenerator.
  
d.    Halida Organik dan Senyawanya
Contoh bahan :
Aldrin, Klordan, Dieldrin, Lindane, Tetraetillead (TEL), Vinilkloride

Pembuangan/pemusnahan bahan dengan cara :
Tuangkan ke dalam  NaHCO3atau campuran pasir dengan NaOH (90:10). Aduk baik-baik dan pindahkan ke dalam insenerator.
Larutkan ke dalam pelarut organik mudah terbakar (aseton, Benzena). Bakar dalam insenerator.
  
e.    Asam Organik Tersubstitusi
Contoh  bahan :
Asam benzena sulfonat, Asam kloroasetat, Asam trikloroasetat, Asam fluoroasetat
  
Pembuangan/pemusnahan bahan dengan cara :
Tuangkan ke dalam NaHCO3 berlebihan, campur dan tambahkan air. Biarkan 24 jam setelah itu secara perlahan-lahan buang bersama sejumlah air, atau
Tuangkan ke dalam absorbent dalam insenerator. Tutup dengan sisa kayu atau kertas, siram dengan alkohol bekas dan bakat, atau
Larutkan dalam pelarut mudah terbakar atau sisa alkohol, Bakar dam insenerator.

f.     Amin Aromatik Terhalogenasi dan Senyawa Nitro
Contoh bahan :
Diklorobenzena, Dinitroanilin, Endrin, Metil isotiosianat, Nitrobenzena, Nitrofenol
  
Pembuangan/pemusnahan dengan cara :
Seperti pada tumpahan banyak, atau
Dibakar langsung dalam insenerator dengan schrubber, atau
Campur dengan pelarut mudah terbakar (alkohol, benzena) dan bakar dalam insenerator.

g.    Senyawa Amin Aromatik
Contoh bahan :
Anilin, Benzidine (karsinogenik), Pyridine,

Pembuangan/pemusnahan bahan dengan cara :
Dapat dilakukan seperti pada tumpahan banyak.
Larutkan dalam pelarut mudah terbakar (alkohol, benzena) dan bakar dalam insenerator.

h.    Fosfat Organik dan Senyawa Sejenis
Contih bahan :
Malathion, Methyl parathion, Parathion, Tributilposfat

Pembuangan/pemusnahan bahan dengan cara :
Bakar langsung ke dalam insenerator setekah dicampurkan dengan pelarut organik yang mudah terbakar.
Campur dengan kertas bekas dan bakar dalam insenerator dengan schrubber alkali.

i.      Basa Alkali dan Amonia
Contoh bahan :
Amonia anhirat, Kalsium hidroksida, Natrium hidroksida

Pembuangan/pemusnahan bahan dengan cara :
Tuangkan dalam bak dan encerkan dengan air serta netralkan. Buang dalam pembuangan air biasa.


BERITA ACARA PEMUSNAHAN BARANG


Pada hari ini ………………………………….. tanggal ….................................................. bulan ………………………………………tahun………………………………………………..
bertempat di………………………………………………………………………………………
telah melaksanakan pemusnahan barang berupa :

NO
NAMA BARANG
NO.INVENTARIS
JML
KETERANGAN
 



Barang tersebut telah diperiksa dan terdapat rusak/cacat produksi dan tidak memungkinkan untuk digunakan kembali.

Demikian Berita Acara ini kami buat berdasarkan keadaan yang sebenarnya. Atas perhatian dan kerja samanya kami mengucapkan terima kasih.


Menyetujui,
Kepala SMA



…………………….
NIP : ……………………
Waka Sarpras




…………………….
NIP : ……………………

Pelaksana



…………………….
NIP: ……………………


Langkah - langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi limbah di laboratorium

1.       Penggunaan kembali limbah laboratorium berupa bahan kimia yang telah digunakan, setelah melalui prosedur daur ulang yang sesuai.
Sebagai contoh: (hal ini paling sesuai untuk pelarut yang telah digunakan) Pelarut organik seperti etanol, aseton, kloroform, dan dietil eter dikumpulkan di dalam laboratorium secara terpisah dan dilakukan destilasi.
2.      sebelum melakukan reaksi kimia, dilakukan perhitungan mol reaktan-reaktan yang bereaksi secara tepat sehingga tidak menimbulkan residu berupa sisia bahan kimia. Selain menghemat bahan yang ada, hal ini juga akan mengurangi limbah yang dihasilkan.
3.      Pembuangan langsung dari laboratorium. Metoda pembuangan langsung ini dapat diterapkan untuk bahan-bahan kimia yang dapat larut dalam air. Bahan-bahan kimia yang dapat larut dalam air dibuang langsung melalui bak pembuangan limbah laboratorium. Untuk bahan kimia sisa yang mengandung asam atau basa harus dilakukan penetralan, selanjutnya baru bisa dibuang. Untuk bahan kimia sisa yang mengandung logam-logam berat dan beracun seperti Pb, Hg, Cd, dan sebagainya, endapannya harus dipisahkan terlebih dahulu. Kemudian cairannya dinetralkan dan dibuang.
4.      Dengan pembakaran terbuka. Metoda pembakaran terbuka dapat dterapkan untuk bahan-bahan organik yang kadar racunnya rendah dan tidak terlalu berbahaya. Bahan-bahan organik tersebut dibakar ditempat yang aman dan jauh dari pemukiman penduduk.
5.       Pembakaran dalan insenerator. Metoda pembakaran dalam insenerator dapat diterapkan untuk bahan-bahan toksik yang jika dibakar ditempat terbuka akan menghasilkan senyawa-senyawa yang bersifat toksik.
6.       Dikubur didalam tanah dengan perlindungan tertentu agar tidak merembes ke badan air. Metoda ini dapat diterapkan untuk zat-zat padat yang reaktif dan beracun.


Dari artikel diatas penulis ingin mendiskusikan beberapa pertanyaan
1. Bagaimana cara mengetahui reagen yang terpakai dengan yang tidak terpakai jika data adminitrasi laboran tidak lengkap?
2. Bagaimana cara mengatasi jika terjadi pecahnya cairan berbahaya untuk reagen tidak terpakai pada saat bekerja dilaboratorium? 





Kamis, 19 April 2018


BASIC LABORATORY SKILLS

Laboratorium adalah suatu tempat dilakukannya percobaan dan penelitian. Tempat ini dapat merupakan ruangan tertutup, kamar atau ruangan terbuka. Laboratorium adalah suatu ruangan yang tertutup di mana percobaan eksperimen dan penelitian dilakukan (Depdikbud : 1995, 2003).
Kegiatan laboratorium merupakan kegia­tan yang melibatkan seluruh aktivitas, kreativitas dan intelektualitas siswa. Salah satu keterampi­lan dan kreativitas yang diperlukan dan harus di­kuasai siswa adalah keterampilan merencanakan suatu percobaan, meliputi keterampilan menen­tukan alat dan bahan, menentukan variabel, me­nentukan hal-hal yang perlu diamati dan dicatat, menentukan langkah kerja, serta cara pengola­han data untuk menarik kesimpulan sementara.


Dalam pelaksanaan praktikum ada beberapa keterampilan dasar yang harus dimiliki praktikan pada tahap pelaksanaan yaitu :
a)      Menggunakan kelengkapan yang wajib dalam praktikum (seperti jas lab, masker, sarung tangan, sepatu ket, dan sebagainya)
b)      Dapat menggunakan alat-alat praktikum yang dilakukan
c)      Dapat mensterilkan atau mengkalibrasi alat-alat dalam laboratorium
d)     Dapat mengenali jenis-jenis zat yang digunakan saat melakukan praktikum
e)      Dapat melakukan praktikum sesuai prosedur yang ada
f)       Dapat menyimpulkan hasil dari praktikum.

       Pada saat ini, penulis akan membahas poin B bagaimana siswa dapat menggunakan alat-alat praktikum yang dilakukan dengan membahas salah satu contoh alat praktikum fisika dan penulis juga menggunakan LKS untuk melihat kemampuan siswa sejauh mana memahami tentang tata cara penggunaan alat tersebut, dimana alat yang akan penulis bahas yaitu:

JANGKA SORONG MANUAL (VERNIER CALIPER)
Jangka sorong adalah alat ukur  yang mempunyai tingkat ketelitian 0,01 milimeter, sehingga Anda dapat mengukur ukuran sebuah benda dengan lebih teliti dan akurat. Jangka sorong merupakan alat ukur yang sering oleh orang-orang yang memiliki profesi sebagai tekniksi,  atau mekanis. Umumnya jangka sorong digunakan untuk mengukur diameter benda atau lubang pipa. Selain itu, masih banyak fungsi lain yang dimiliki oleh alat ukur ini.

Fungsi Jangka Sorong

Alat ini biasanya sering dipakai oleh orang-orang yang berprofesi sebagai mekanik atau teknisi.Jangka sorong biasanya digunakan untuk mengukur diameter benda atau lubang pipa. Tidak hanya itu, jangka sorong juga berfungsi mengukur kedalaman atau ketinggian sebuah lubang kecil.
Ada beberapa fungsi dari jangka sorong, di antaranya:

  • Untuk mengukur diameter dalam
  • Mengukur diameter luar
  • Mengukur kedalaman atau ketinggian
  • Untuk mengukur ketebalan suatu benda yang kecil atau tipis seperti plat, seng dan lain-lain.
Bagian Bagian Jangka Sorong
kegunaan jangka sorong
Jangka sorong mempunyai beberapa bagian dengan fungsi yang berbeda. Beda. Antara lain:

Rahang Dalam

Bagian ini terdiri dari 2 rahang, yaitu rahang geser dan rahang tetap. Rahang dalam berfungsi untuk mengukur diameter luar atau ketebalan suatu benda.

Rahang Luar

Rahang luar mempunyai 2 rahang sama seperti rahang dalam. Fungsi rahang luar jangka sorong adalah untuk mengukur diameter dalam suatu benda.

Pengukur Kedalaman

Untuk bagian yang satu ini berfungsi mengukur kedalaman suatu benda.

Skala Utama (cm)

Skala utama dinyatakan dalam satuan cm. Fungsinya untuk menyatakan hasil pengukuran utama dalam satuan centimeter.

Skala Utama (inchi)

Skala utama dalam satuan inchi berfungsi menyatakan hasil pengukuran dalam satuan inchi.

Skala Nonius (mm)

Skala ini dinyatakan dalam satuan mm. Fungsinya sebagai skala pengukuran fraksi dalam satuan milimeter.

Pengunci

Fungsinya adalah unuk mendahan bagian-bagian yang bergerak sehingga pengguna bisa mengukur dengan lebih mudah.

Cara Membaca Jangka Sorong

Ada beberapa langkah yang berkaitan dengan cara menggunakan jangka sorong. Berikut penjelasan selengkapnya.
cara menghitung jangka sorong fisika
1.      Cek kondisi jangka sorong, jika ada kotoran bersihkan terlebih dahulu agar tidak mempengaruhi hasil pengukuran.
2.      Geser jangka sorong hingga rapat dan pastikan nilai pengukuran berada tepat di angka nol.
3.      Siapkan benda yang akan diukur dan pastikan tidak ada kotoran atau material lain yang bisa mempengaruhi hasil pengukuran.
4.      Lakukan pengukuran dengan menggeser jangka sorong sehingga cocok dengan benda yang hendak diukur.
5.      Pastikan benda yang diukur benar-benar terjepit.
6.      Ketika mengukur, posisikan jangka sorong secara lurus baik vertikal ataupun horizontal. Juga bisa mengunci jangka sorong sehingga posisinya tidak berubah.
7.      Perhatikan posisi yang ditunjuk oleh garis angka 0 pada skala vernier (Nonius).
8.      Selanjutnya perhatikan garis angka lainnya pada skala vernier yang menunjukkan posisi terlurus terhadap nilai pada skala utama.
9.      Bila posisi paling lurus berada pada angka nol dari garis skala vernier, maka artinya hasil pengukuran adalah nilai bulat.
10.  Akan tetapi jika tidak tepat berada pada angka nol, perhatikan hasil yang mendekati. Caranya adalah dengan memperhatikan angka lain yang paling lurus dengan garis skala utama. Hasil tersebut merupakan nilai desimal dari hasil pengukuran utama.

.

Ketelitian Jangka Sorong

Ketelitian suatu jangka sorong bisa berbeda-beda. Ada cara tersendiri untuk mengetahui ketelitian jangka sorong atau vernier caliper.

Cara Menghitung Jangka Sorong Ketelitian 0,02 mm

cara menghitung jangka sorong ketelitian
Berdasarkan gambar di atas, terbaca 49 skala utama = 50 skala nonius.
Maka besarnya 1 skala nonius = 1/50 x 49 skala utama = 0,98 skala utama.
Maka ketelitian jangka sorong tersebut adalah 1/50 = 0,02 mm.

Cara Menghitung Jangka Sorong Ketelitian 0,05 mm

fungsi jangka sorong
Pada gambar di atas diketahui 39 skala utama = 20 skala nonius.
Maka besarnya 1 skala nonius = 1/20 x 39 skala utama = 1,95 skala utama.
Jadi ketelitian jangka sorong tersebut adalah 2 – 1,95 = 0,05 mm.
Atau juga bisa dinyatakan 1 bagian skala utama dibagi sebanyak jumlah skala nonius,
yakni 1/20 = 0,05 mm.

Cara Menghitung Jangka Sorong Ketelitian 0,1 mm

contoh cara menghitung jangka sorong

Berdasarkan gambar di atas diketahui 9 skala utama = 10 skala nonius.
Maka besar 1 skala nonius adalah 1/10 x 9 skala utama = 0,9 skala utama.
Maka ketelitian jangka sorong tersebut adalah 1 – 0,9 = 0,1 mm.

Berikut adalah contoh Lembar Kerja Siswa dalam pelaksanaan praktikum fisika:

LEMBAR KERJA SISWA (LKS)
PENGUKURAN MENGGUNAKAN JANGKA SORONG

I. Tujuan                   : 1. Siswa mengenal alat ukur berupa jangka sorong
                                       2. Siswa mampu menggunakan alat ukur jangka sorong.
                                       3. Siswa mampu melakukan penghitungan hasil pengukuran benda dengan
                  menggunakan rumus tertentu.

 II. Alat dan Bahan : 1. Jangka sorong 1 buah
                                       2. Spidol 1 buah
                                       3. uang logam/ cincin 1 buah
III. Dasar Teori      :          
Jangka sorong adalah salah satu alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur beberapa benda dalam kehidupan yang sulit untuk dijangkau dengan pengukuran biasa. Pada dasarnya, jangka sorong dapat digunakan untuk mengukur panjang, diameter luar, diameter dalam, dan kedalaman benda. Bagian – bagian utamanya adalah rahang tetap yang memiliki skala utama dengan lebar skala terkecil satu milimeter dan rahang geser memiliki skala nonius/vernier. Lebar skala nonius masing – masing 0,9 mm. Hal ini dimungkinkan karena panjang seluruh skala nonius adalah 9 mm tetapi dibagi 10 buah skala. Jadi, selisih satu skala pada rahang tetap dan rahang geser (1-0,9) mm atau 0,1 mm. Ketelitian atau ketidakpastian jangka sorong adalah 0,1 mm.
kegunaan jangka sorong
IV. Langkah kerja  :
1.      Kalibrasikan jangka sorong dengan cara memastikan bahwa angka pada skala nonius dan skala utama berhimpit tepat di angka nol.
2.      Ukurlah diameter luar dari spidol yang telah disiapkan
3.      Letakkan spidol pada rahang jangka sorong.
4.      Geserlah rahang geser sampai posisi spidol benar – benar tidak bergeser kembali.
5.      Lihat angka yang berhimpit pada skala nonius dan skala utama
6.      Gunakan rumus perhitungan untuk mengetahui ukuran diamater luar dari spidol tersebut.
7.      Ukurlah kembali diameter dalam dari spidol tersebut dengan metode yang sama.
8.      Lakukan pengukuran berulang sebanyak 3 kali untuk mendapatkan ketelitian dalam hasil pengukuran.

V. Data Hasil Pengamatan :
           
No
Benda                
Skala Utama
Nonius
(x batas ketelitian)
1.

Diameter spidol
………………………….. cm
…………… x …………. mm 
Ketebalan spidol
………………………….. cm 
…………… x …………. mm 
2
Cincin
(diameter luar)
………………………….. cm 
…………… x …………. mm 
Cincin
(diameter luar)
………………………….. cm 
…………… x …………. mm



VI. Kesimpulan       :

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….......................................................................................................................................................................


Dari artikel diatas penulis ingin mendiskusikan beberapa pertanyaan terkait materi yang telah dijabarkan diantaranya:
1 1. Bagaimana cara guru membekali siswa tentang  skill Lab yang baik?
22. Apakah pengaruh post test dan pre test yang dilakukan sebelum dan sesudah pelaksanaaan praktikum?
33. Jika keterbatasan sarana seperti tidak adanya jas praktikum, kurangnya sarung tangan praktikum, masker, tidak menggunakan sepatu sebagaimana mestinya apakah praktikum akan tetap dilaksanakan? Bagaimana solusi anda sebagai guru agar tetap berjalan sebagaimana mestinya?